lari
+ Minggu Pagi lari yuk!
- Hayu!
+ Lari dari kenyataan
- ^&#)&!*
+ Minggu Pagi lari yuk!
- Hayu!
+ Lari dari kenyataan
- ^&#)&!*
Dia bilang tulisan saya..
+ simple, lucu, dan slalu menarik. Ini faktanya..
- makasih ya..
+ saya ga bisa kaya gitu
- different world, different idea, just like yin n yang, to complete each other
+ i hope so
- amin..
+ to complete each other! Amin..
- yes, just like a pair of socks
+ yup! or kloset n [maaf] ee??
- nah itu dia!! lucu ya? we’re just like TOTO n shit 
+ gelo!
- beneran, saya mau nulis tentang itu
+ ntar yg namanya toto tersinggung ga?
- oia ya! ya udah closet n shit aja.
Hahahahahaha!
cheers!
seberapa cepat kita bisa berlari?
seberapa tinggi kita bisa melompat?
seberapa lama kita bisa menunggu?
kata beliau, menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri.
Jadi hari hari ini saya memilih untuk menunggu dengan perasaan senang,
menunggu sepupu bermain dengan keponakannya
setelah itu menunggu dia selesai mandi,
bersolek sebentar
lalu pergi bekerja
bekerja - makan siang - bekerja lagi
menunggu waktu pulang
on the tik tok clocks
Ciuman kecil depan pintu besi usang itu,
yang berdecit ketika terbuka, masih ingat?
Order - Chaos
Tampaknya mulai beraksi. Seru!
Jalan malam hari, menengok kebelakang sesekali
menghindari pria-pria dengan sarung itu.
Mencuri sedikit adrenalin, degup-degup seperti mencuri coklat dari swalayan.
Cuma kita yang tau, dan menciptakan pengulangan lagi tentunya.
Masih ingat teh manis dalam senja hari ini?
seperti senja, remang, tidak pasti, namun hangat*…
It’s been a year, hope it’s for a long year!
Kita bercerita tentang dia,
Akhir-akhir ini banyak yang dirahasiakan sepertinya. Matanya kehilangan sinar, senyumnya setengah dipaksakan, beberapa kali dia terlihat sedang bersusah payah mencuri semangat.
Terakhir dia bercerita di Minggu sore,
tentang tombol On Off yang sering kali di ‘klik’ oleh seseorang-yang-sulit-disebutkan-namanya.
Dia menggambarkannya kurang lebih begini :
“Jadi, rasanya seperti tombol lampu!”
On Off
On Off
On Off
On Off
OnOff
(akhirnya sambungannya malah terputus permanen)
Dia cuma -berusaha- tersenyum dan bilang:
“Just give me more time to fix it okay?”
Setiap jarum itu hujam, yang tanpa henti.
Lalu sekarang kamu ingin ikut, menari dengan hati-hati.
Tapi tetap menusuk dalam hentak-hentak, memintaku untuk terus terhenyak dalam satu dua dan tiga birama nya.
Itu aku, dengan segala kata dan sikap yang jelas-jelas salah, dan itu memang salah.
Bukan untuk dirutuki bukan?
Hanya saja sayap-sayap itu sudah timpang kesalah satu sisi saja,
aku sudah siap untuk menukik tanpa kendali mu lagi.
Walau sisa gula-gula kemarin masih terasa manis di lidah ku dan caramelnya masih terselip di sela-sela gigi bungsu-ku yang masih setengah tumbuh, dan masih ada harapan-harapan disana..
Tapi jika tetap ingin pergi silakan,
Kalau kembali, kembalilah dengan segala ketidaksempurnaan yang mengaggumkan..
Sepi,
hanya kita,
aku dan kamu..
(aku dan kamu masih “kita” bukan?)
Ada siluet hujan yang menari dibawah sinar lampu jalan.
Wangi tanah tandus yang bius sukma, lalu lalang, tak nampak lidah yang membuat kata-kata.
Kita terlalu jenuh bercerita,
tak ada lagi frame kosong dalam otak ini.
pagar-tinggi-enggan-menyapa
Membayangkan senandung lagu itu dalam waktu ini, berharap bisa terbang, ke halte beraja..
Dimana beraja ku sekarang?
Ingatkah ia tentang sesuatu yang gila?
yang pernah membalut kalbu?
yang menambal lubang-lubang ego ini?
Siapapun,
sekarang,
(yang entah siapa dan entah dimana)
Sudah tidak ada lagi kan sayang?
aku tau semuanya,
dan kau tidak.
pikirmu aku hanya siput yang berusaha menjejaki tanah yang dalam?
Kamu salah sayang,
kamu bukan seseorang yang cukup lihai untuk menyembunyikan apapun.
Aku pernah melacur untuk cinta,
membumbui satu persatu lelaki untuk mencapai klimaks-ku.
Dan saja kamu hanya seseorang dari jendela lain yang tiba-tiba mendambakan sesuatu yang liar,
tapi kamu tetap saja salah sayang.
Kamu tidak lebih dari timbunan limbah-limbah untuk ketidakpuasan ku atas lelaki,
jadi kamu hanya pelengkap, tidak lebih.
Jadi kalau kamu tetap baik dengan menyembunyikan banyak hal,
kamu salah sayang, “I Love You” -ku kemarin lebih dusta!
Detik punya hal yang banyak tentang kesalahan
hingga kita punya banyak pelajaran tentang hidup.
Untuk berusaha terus maju dan tau kapan harus mundur.
Bunda juga tau detik itu, sebesar cinta dalam jarak, kesabaran atas penantian dan setia tanpa balas.
Detik pada bagian nocturno yang memang muncul hanya malam hari dan bagian terik yang terang pada siangnya.
Tidak pernah saling mencuri.
Semua itu karena detik waktu yang berjalan, tidak tersia-sia.
Untuk semua itu bahkan aku tidak berharap untuk berkedip,
karena aku berhutang pada detik untuk hidup,
terutama atas keberadaanmu dalam ribuan detik kemarin..