1/1
Rambutmu sudah tak lagi hitam
coklat - ungu entah perpaduan itu apa namanya. Masih dengan poni samping belah kiri.
Hey! alismu sudah dicabuti satu-satu, pinset pelakunya. Tai lalat di atas matamu lebih terlihat jelas.
Begel-nya belum terpasang juga ya?
Yang jelas kamu masih lucu dengan gingsul kanan itu.
49? Beratmu 49 sekarang? Pipi mu masih saja tirus, dengan sanggahan tulang pipi menonjol nan eksotis disitu.
Kamu tampak dewasa, melihatmu seperti tidak melihatmu di 10 taun yang lalu.
backpack - sneakers - kuncir kuda
Buatku, melihatmu tetap nuansa putih - abuabu.
Entah karena seringkali bertemu kamu sore hari, ketika senja. Sepulang olah raga. Dengan pipi merah bersemu, menawarkan berboncengan denganmu.
Kalau saja aku ikut lomba lari denganmu, kamu pasti sudah jauh tertinggal 2 kilo di belakangku.
Sepedamu membuat rumahmu terasa semakin dekat ya?
Dan kuncir kuda itu tampak menari-nari mengikuti angin sore itu.
Masih maukah kamu begitu?
Sekarang kamu disini tepat didepanku. Tidak menawarkan boncengan sepeda lagi, kamu bercerita tentang ricuh Ibukota.
Cerita tentang Ibu, Bapa, Ade dan Kaka.
Kamu antusias sekali, sama antusiasnya dengan seruput coklat panas kita yang sisa setengah.
Katamu kamu culun sekali waktu itu, dengan kuncir kuda dan sepeda.
Buatku kamu itu unik. Dari semua siswa disana cuma kamu yang bersepeda.
Sepedamu juga terlalu tinggi untuk ukuran badanmu yang mungil. Kakimu tidak sampai ke tanah, makanya kamu harus terus mengayuh.
Tapi kamu tampak makin tinggi sekrang, dengan hak 5 centi itu tepatnya.
Aku terus bercerita tentang guru Bahasa Indonesia favoritmu. Sering kali kamu mencuri waktu untuk ngobrol dengan beliau. Kamu tau, kadang aku ingin menjadi orang di antusiasi oleh mu. Wajahmu cerah.
Dengan gerakan tangan dan sipitnya matamu ketika kamu tertawa.
Kamu bilang aku lucu, selalu membuatmu tertawa.
Dan aku melucu karena selalu ingin membuatmu tertawa.
Karena yang paling aku ingat dari semuanya adalah :
Senyum-mu
Sama seperti senyum-mu sore ini.
Lalu secarik kertas kulipat segitiga. Dengan kening berkerut kamu membuka surat itu.
Lalu raut mukamu berubah, dengan senyum itu!
: Berharap bisa menemukan tombol pause dalam scene berisi senyum-mu.
(ga) penting |2 Responses to “1/1”
Leave a Reply
tai lalatnya dibawah mata atuh phe biar kaya gw
wkwkwkwk…
bagus phe ceritanya bagus, ayooo lanjutkan….
si eneng jd pemeran utamanya gitu? bolelebo..
tp utk crt yg ini mah ga ada lanjutannya del, emang ga bs bikin cerpen euy.. hehehe