sudah (tidak) sabar
Sedikit mengeluh dibulan puasa yah, boleh?
2 taun ini saya ngerasa belum juga nyaman dengan ibukota, dengan segala fasilitasnya. Dengan segala kericuhan dan kemacetannya. Saya tidak nyaman disini, belum juga merasa nyaman, padahal 2 taun itu ga sebentar juga kan yah?
Mungkin ini yang namanya real life, tapi buat saya hidup itu memang real bukan absurd. Hidup adalah mengambil suatu pilihan termasuk memilih resikonya juga. Saya baru sadar 2 taun ini saya membuang banyak waktu yang sia-sia, saya benci menyesal.
Saya harus lebih berusaha untuk segala perubahan, untuk resiko yang sudah saya siapkan baik-baik dan matang.
Waktunya saya bergerak, sebentar lagi saya sampai ke limit-nya. Ketika saya sampai disana juga saya tetap harus melakukan suatu perubahan besar. Semoga kali nanti saya tidak lagi mengeluh hal yang sama, mengeluh tentang pekerjaan, tentang gaji yang minim, tentang macet, tentang ketidaksibukan yang membuat mati gaya, tentang uang tabungan yang menipis terus
Saya sedang menunggu di pintu perbatasan, untuk meloncat, untuk melakukan perubahan. Saya tidak sabar, benar-benar tidak sabar..
feel it? |One Response to “sudah (tidak) sabar”
Leave a Reply
Saya nggak pernah ngeliat ato ngerasa bahwa kamu cocok dengan jakarta. Jakarta bukan kamu banget. Di sini kamu harus siap jadi robot, robot yang [terlalu]-banyak berjuang untuk hal2 yang [nggak] penting.
Kalo mau cari quality life, keluarlah dari jakarta. Jangan tunggu lagi!
Saya bertaruh kamu akan menulis tentang kamu nggak tahan dengan jakarta minimal 2 atau 3 kali lagi, sampai akhirnya kamu [benar2] muak. Dan itu pun belum tentu membuat kamu keluar dari jakarta secepatnya. Plin-plan mu masih ada saja sampai sekarang, bahkan makin parah karena sekarang kamu plin-plan untuk masa depan kamu. Kamu bukan gadis 22 tahun lagi seperti waktu itu!
huh!
Kamu yang selalu bilang mau berubah ternyata gak pernah berubah.
sekali lagi… huh!