s p a s i


August 24th, 2007

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayangi bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

 

Kata-kata yang saya ambil dari buku Filosofi Kopi-nya Dewi Lestari.
Waktu nya meletakan sekat di antara ruang-ruang saya.
Berwarna merah,tanda peringatan buat saya.
Memilih salah satu.
Tidak!
Saya belum mau,
izinkan saya memilih untuk tidak memilih kali ini.

Itu juga pilihan bukan?

lego


August 24th, 2007

lego2.jpgSebentar saja, belum akan pergi, belum juga mau keluar dari sini. Saya hanya perlu menambahkan atau mengurangi ‘beberapa’ dari saya.

Ketemu seseorang yang baru, entah siapa, saya juga tidak terlalu kenal,dan saya belum mau terlalu mengenal orang-orang yang belum saya kenal *pusing*

Kalau kata-nya “mencari sudut pandang baru” atau sebetulnya kita hanya memodifikasi sudut pandang baru (yang sudah dirasa terlalu lama), menjadi sudut pandang yang lebih baru.

Ummm.. saya menyebutnya seperti si ‘anak kecil’ yang punya mainan baru, dan selalu bisa aja nemuin mainan baru. Si ‘anak kecil’ itu biasanya suka ga pernah mau maenannya di ganggu orang laen, then.. setelah dia bosen dan nemuin mainan baru yang lainnya, mainan-yang-pernah-baru  itu dia tinggalin..

DIA punya jalan, ruang dan waktu untuk alasan yang belum saya pikirin sebelumnya. Lalu untuk hal-hal baru yang sudah saya lakukan, saya merasa tidak boleh (terlalu) menyesal, tidak boleh juga terlalu nyaman. Kenyamanan bisa jadi adalah bentuk kecil dari kestatisan yang terlambat disadari.
Saya percaya segala sesuatu dibuat karena ada guna-nya. Sekecil apapun itu, serumit apapun itu, selama apapun itu. Even it’s just a ’sampah’. Sampah juga berfungsi untuk mengisi tempat sampah bukan?
Tanpa saya sadari ataupun tidak, semua itu pasti ada guna-nya buat saya. Saya ga perlu nuntut apapun buat hal-hal itu, nikmatin aja hasil dari semuanya..

Ruang ini memang terlalu besar tanpa bentuk. Saya hanya memberi sekat-sekat imajiner saja pada ruang saya. Supaya saya tau, dimana saya harus berjalan berbaik arah karena kepentok, atau saya masih harus berjalan terus, sampai saya kira saya harus menambahkan sekat di ruang saya itu. Mirip Lego, saya menggambarkan sekat-sekat saya seperti itu, sewarna-warni itu juga. Tidak ada yang tidak mungkin bukan? yang ada hanya belum..

Mengutip kata Coelho di Maktub-nya
“If you are still living, it’s because you have not yet arrived at the place you should be.”

 

 

 

Hey u! Thanks for that day.. I called it another Endorphine day!